panca kirana
 
Oleh : Rendra Kharisma G10
Ini adalah cerita tentang seorang rekan aktivis yang dahulu semasa SMU juga ikut menyumbangkan tenaganya dalam penumbangan orde baru (1998) dan terakhir ikut juga berusaha menurunkan pemerintahan hari ini yang sudah ramai di dengungkan sejak desember 2009 yang melalui melalui isu ”100 hari pemerintahan”.

Setelah melalui berbagai konsolidasi dan pertemuan. Dari hotel bintang lima hingga jalanan akhirnya rekan itu berpendapat bahwa pergerakan yang di bangun untuk menurunkan pemerintahan bukanlah tujuan dari pergerakan itu. Dengan argumentasi sejarah 1998, suara-suara dan tuntutan seperti ”Turunkan...” tidak relevan lagi untuk di gunakan saat sekarang. Tambahan argumentasinya yang sedikit logis adalah rentang jarang waktu yang terbuang sia-sia bila di bandingkan dengan 12 tahun setelah 1945, 12 tahun setelah 1965, 12 tahun setelah 1998.

”Kalo loe dah tahu apa saja yang terjadi di rentang tahun itu, baru loe bisa sadari, bahwa kita hari ini sebenarnya berjalan di tempat atau bahkan berjalan ke belakang,” kata rekan aktivis itu kepada saya.

Saya lalu membenarkan pendapatnya dan menambahkan argumentasi nya bahwa tahun-tahun itu memiliki pola, watak dan karakter yang berbeda, karena waktu tidak berjalan mundur, sudah pasti pola, watak dan karakter itu terus berkembang.

Argumentasi yang syarat dengan filosofis itu di akhiri dengan kata-katanya yang menenangkan jiwa karena di kutip dari Tokoh besar, ”Orang yang lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka, Orang yang sama dengan hari kemarin adalah merugi dan orang yang lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung.”

Singkat kata, rekan itu sebenarnya mengajukan penawaran, pertimbangan dan pilihan kepada saya dan khususnya kepada kita semua. Dan saya memilih menjadi orang yang beruntung.

Akan tetapi, tentu saja tidak mudah untuk mengajukan penawaran kepada orang yang notabene tidak tertarik kepada Aristoteles, plato dan kawan-kawan filsufnya yang lain. Karena waktu berjalan maju, filosofis itu harus bergerak ke arah yang praktis. Harus mampu menjawab tantangan jaman yang semakin global.

Dan ternyata rekan aktifis itu mampu menjawab dengan argumentasi praktisnya yaitu: BENDERA. Sedikit terkejut tapi cukup tenang setelah rekan aktifis itu menjelaskan makna ”MERAH PUTIH” yang nantinya rekan aktifis itu berjanji akan menuliskannya di grup ini.

Nah, soal bendera ternyata memang menjadi hal yang sensitif ketika konsolidasi itu berlangsung. Contohnya saat pengenalan organ sebelum dan selama aksi berlangsung serta pemberitahuan jumlah massa yang akan di turunkan. Bendera juga mampu memberi kesan idiologis atau visi misi dari organ tersebut yang di wakilkan melalui lambang dan simbol.

Tapi yang menjadi masalah adalah saat bendera itu di tujukan untuk narsis atau pencitraan publik. Yeah...cendrung subjektif memang tapi apa yang ada di pikiran kita semua saat rekan aktifis saya itu menawarkan kepada organ-organ waktu itu untuk menentukan bendera aksi, dengan suara lantang dan membakar dia berteriak, ” BENDERA KITA MERAH PUTIH!!” dan lalu teriakannya ternyata seperti air di gurun pasir..wuzzz..hilang begitu saja.

Coba...apa yang ada di pikiran kita? Alasan apa mereka menolak merah putih?

Selidik punya selidik, organ-organ yang menolak itu ternyata di pesan oleh elit untuk melakukan aksi. Tentu saja barang yang di beli harus terlihat oleh pembeli. Tentu saja bendera itu harus terlihat oleh elit pemesan. Tentu saja harus terlihat pro dan kontra nya. Memalukan..!

Padahal alasan ”Merah Putih” untuk bendera adalah alasan terkuat yang pernah saya dengar. Cukup 1 alasannya: ”Tidak ada satu pun di republik ini yang berani menginjak-nginjak merah putih”. Ahmad dhani saja harus berurusan dengan pihak yang berwenang saat dia menempelkan simbol kebesarannya yang menimpa merah putih apalagi yang menginjak, merebut dan menembak orang yang memegang bendera itu.

”Ini adalah taktik yang bagus buat meredam aksi anarkis” kata rekan aktifis dengan penekanan yang kuat di nada suaranya. ”Jika kita memegang merah putih, polisi yang membubarkan kita akan berhadapan dengan TNI!”, lanjutnya. Tapi apa daya, kekuatan elit ternyata menjalar di kalangan aktifis. Politik pencitraan ternyata sudah merasuk ke organ pergerakan. Aktifis ternyata tak ubahnya seperti artis yang beraksi hanya kalau kantong menipis. Sehingga pesan ”merah putih” itu tidak bisa di tangkap oleh mereka. Logika di mentahkan oleh logistik.

Argumentasi ”Bendera” ini ternyata cukup ampuh untuk menyadarkan rekan tersebut. Sejak itu dia tidak mau di sebut ”Aktifis”. ”Panggil aku ”pemuda pergerakan” katanya. Okelah kalau begitu kawan.

Akhirnya mantan aktifis yang sekarang menjadi pemuda pergerakan ini banyak memberikan saran dan usul bagaimana menbangun sebuah pergerakan yang efektif.

Hasilnya: kombinasi pemikiran yang menghasilkan Gerakan Pemuda sepuluh dengan satu bendera: MERAH PUTIH.
 


Comments




Leave a Reply


panca kirana